Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memangkas bantuan kepada ratusan pengungsi Rohingya di Indonesia, menurut surat yang dilihat oleh Reuters dan dua orang yang diberi penjelasan tentang masalah tersebut, hal ini terjadi karena adanya pemotongan dana besar-besaran oleh donor terbesar mereka, yakni Amerika Serikat.
Dalam surat tertanggal 28 Februari, Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat menyediakan layanan kesehatan dan bantuan tunai kepada 925 pengungsi Rohingya yang berlindung di kota Pekanbaru mulai 5 Maret kemarin, “karena keterbatasan sumber daya, Sebagian bantuan akan terus diberikan kepada orang-orang yang paling rentan”, katanya, Jumat (7/3/25).
Banyak etnis Rohingya yang sebagian besar beragama Islam, Mereka berasal dari Myanmar dan merupakan populasi tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia yang melarikan diri dari kamp-kamp kumuh dan penganiayaan di Myanmar dan negara tetangga, yakni Bangladesh di setiap tahunnya, berlayar menggunakan perahu reyot ke Thailand atau Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim.
Langkah IOM disebabkan oleh keputusan pemerintahan Trump untuk memangkas sebagian besar bantuan asing, kata Chris Lewa, direktur Arakan Project, sebuah kelompok yang memantau krisis Rohingya, dan orang lain yang diberi penjelasan tentang masalah tersebut.
Dalam pernyataan kepada Reuters, IOM mengatakan pihaknya “mematuhi semua perintah hukum” sebagai akibat dari keputusan pemerintah AS, yang “berdampak pada staf, operasi, dan orang-orang yang kami layani”. Kamis (5/3/25).
Organisasi tersebut tetap “berkomitmen untuk memberikan bantuan kemanusiaan yang penting” dan terus melibatkan para donor dan mitra termasuk AS untuk mendukung layanan penting, Imbuhnya.
Tindakan sejak Presiden Donald Trump menjabat pada bulan Januari untuk menghentikan sebagian besar bantuan luar negeri AS dan membubarkan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) telah menimbulkan kekacauan di sektor kemanusiaan secara global.
